Sampah anorganik kini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berpeluang menjadi sumber penghasilan masyarakat. Melalui fasilitas Waste Station, warga Banyumas bisa menukarkan sampah plastik, kardus, kertas hingga barang elektronik bekas menjadi poin yang dapat dicairkan menjadi uang melalui rekening bank.
Fasilitas pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular tersebut resmi diresmikan di kawasan Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis (5/11/2026).
Peresmian dihadiri Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kementerian Lingkungan Hidup Vinda Damayanti Ansjar, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, Direktur Commercial Banking PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Hermita, serta CEO sekaligus Co-Founder Rekosistem Ernest Christian Layman.
Waste Station ini merupakan hasil kolaborasi BTN, Pemerintah Kabupaten Banyumas, dan Rekosistem. Kehadirannya diharapkan menjadi salah satu solusi untuk memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya, sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Melalui fasilitas tersebut, warga dapat menyetorkan berbagai jenis sampah anorganik yang telah dipilah, mulai dari botol plastik, kardus, kertas, kaleng, kaca hingga limbah elektronik.
Sampah yang disetorkan akan ditimbang dan dicatat melalui aplikasi Rekosistem. Selanjutnya, nilai sampah dikonversi menjadi poin yang dapat dicairkan menjadi uang melalui rekening BTN.
Fasilitas Waste Station di Alun-Alun Purwokerto ini memiliki kapasitas pengumpulan rata-rata sekitar empat ton sampah per bulan. Layanan beroperasi setiap Selasa hingga Minggu, mulai pukul 09.00 hingga 18.00 WIB.
Banyumas Hasilkan 738 Ton Sampah per Hari.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan, persoalan sampah masih menjadi pekerjaan besar yang harus ditangani bersama. Berdasarkan data pemerintah daerah, timbulan sampah di Kabupaten Banyumas mencapai sekitar 738 ton setiap hari. Dari jumlah tersebut, sebanyak 573 ton atau sekitar 77,76 persen telah berhasil dikelola. Sementara sekitar 164 ton per hari masih membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Sadewo mengatakan, pemerintah daerah terus mendorong pengelolaan sampah dari hulu, terutama melalui pemilahan sampah sejak tingkat rumah tangga, pemberdayaan kelompok swadaya masyarakat, serta penyediaan fasilitas pengolahan di desa dan kelurahan.
Menurutnya, perubahan cara pandang masyarakat menjadi hal penting dalam mengatasi persoalan sampah.
” Cara pandang kita terhadap sampah juga harus berubah. Sampah tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dikumpulkan, diangkut lalu dibuang,” kata Sadewo.
Ia berharap kehadiran Waste Station dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sekaligus memberikan manfaat ekonomi dari material yang selama ini sering dianggap tidak bernilai.
Kementerian LH: Kolaborasi Jadi Kunci
Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup Vinda Damayanti Ansjar mengatakan, pengelolaan sampah berkelanjutan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perbankan, dan masyarakat.
Menurutnya, Banyumas telah memiliki berbagai fasilitas pengelolaan sampah, mulai dari tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), TPST 3R, fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF), hingga pusat daur ulang.
Kehadiran Waste Station diharapkan memperkuat jaringan pengumpulan sampah terpilah yang terhubung dengan industri daur ulang.
“Keterlibatan sektor perbankan juga membuka peluang untuk menghubungkan pengelolaan sampah dengan layanan dan insentif keuangan, sehingga masyarakat dapat merasakan secara langsung manfaat dari kebiasaan memilah sampah,” ujar Vinda.
Ia menegaskan, keberhasilan Waste Station tidak cukup hanya diukur dari berdirinya fasilitas atau terlaksananya kegiatan peresmian. Namun, harus dilihat dari jumlah masyarakat yang terlibat, volume sampah yang berhasil didaur ulang, serta manfaat ekonomi dan lingkungan yang dihasilkan.
BTN Dorong Sampah Jadi Sumber Penghasilan
Sementara itu, Direktur Commercial Banking BTN Hermita mengatakan, pengembangan Waste Station merupakan bagian dari strategi Beyond Mortgage BTN. Strategi tersebut memperluas peran BTN tidak hanya dalam pembiayaan perumahan, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung kualitas hidup masyarakat.
Menurut Hermita, persoalan sampah memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat, termasuk lingkungan permukiman. Melalui program ini, BTN ingin mendorong masyarakat agar terbiasa memilah sampah dan memperoleh manfaat ekonomi dari material yang masih bisa didaur ulang.
“Jadi ujung-ujungnya dengan BTN ini, kami bukan hanya membantu dengan lingkungan, juga menghasilkan penambahan pendapatan bagi masyarakat,” kata Hermita.
CEO sekaligus Co-Founder Rekosistem Ernest Christian Layman menambahkan, pengelolaan sampah membutuhkan sistem yang terintegrasi agar material yang dikumpulkan dapat dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomi.
Ia menyebut Rekosistem telah mengelola sekitar 120 juta kilogram sampah daur ulang melalui berbagai inisiatif di Indonesia.
Waste Station di Banyumas menjadi fasilitas kedua hasil kolaborasi Rekosistem dengan BTN setelah sebelumnya hadir di Situbondo, Jawa Timur.
Dengan hadirnya fasilitas ini, masyarakat diharapkan semakin terbiasa memilah sampah sejak dari rumah. Sampah yang sebelumnya dibuang begitu saja kini dapat dikumpulkan, ditimbang, dan dikonversi menjadi nilai ekonomi.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular, yakni mengubah pola pengelolaan sampah dari sekadar kumpul, angkut, dan buang menjadi pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna.
Melalui kolaborasi tersebut, Banyumas diharapkan semakin memperkuat gerakan pengurangan sampah sekaligus membangun lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif.
