Kelangkaan BBM di Rote Ndao Memburuk, Antrian Mengular Lebih dari Satu Kilometer
Kelangkaan bahan bakar minyak di Kabupaten Rote Ndao kian memperihatinkan. Antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum membentang lebih dari satu kilometer. Ratusan pengendara roda dua dan roda empat rela menunggu berjam-jam hanya untuk memperoleh pasokan BBM.
Situasi paling mencolok terlihat di SPBU Pantai Baru, Senin (19/10/2026). Warga sudah mulai berdatangan dan membentuk barisan sejak pukul 09.00 Wita, padahal operasional pengisian baru dimulai pukul 12.00 Wita. Di bawah terik matahari, para pengendara bertahan berjam-jam sekadar untuk melanjutkan aktivitas harian mereka.
Ronald Fanggidae, warga yang telah mengantri sejak pagi, menyampaikan kekhawatirannya.
“Kelangkaan ini telah berlangsung selama satu minggu, namun belum ada langkah konkret dari pemerintah. Kami melihat ketidakberdayaan ini setiap hari,” ungkapnya.
Menurut Ronald, akar persoalan terletak pada lemahnya pengawasan terhadap distribusi dan penjualan BBM di luar jalur resmi.
Ketiadaan pengendalian ini menyebabkan pasokan di SPBU menipis, sementara harga di tangan pengecer melonjak tidak terkendali.
Ironisnya, saat ini pasokan BBM hanya tersedia di SPBU, sementara warga di wilayah terpencil semakin sulit mengaksesnya.
Dampak kelangkaan ini merambah ke seluruh sendi kehidupan. Sektor pertanian terganggu karena petani tidak dapat mengoperasikan alat mesin pertanian (Alsintan). Aktivitas perdagangan melambat. Yang paling serius, dunia pendidikan ikut terdampak. Siswa yang tinggal jauh dari sekolah terpaksa tidak masuk karena tidak memiliki sarana transportasi akibat ketiadaan BBM.
Masyarakat mendesak pemerintah untuk segera menetapkan titik penyalur BBM di daerah-daerah yang jauh dari jangkauan SPBU. Langkah ini dinilai mendesak agar rantai pasokan terjamin, harga dapat dikendalikan, dan roda kehidupan di Kabupaten Rote Ndao kembali berjalan normal.

bahlil edannn jancokkk
banyak ngibul
sudah sangat membosankan