Lawan Ketergantungan Gandum Impor, Lahan Pertanian Banjarnegara Diuji Tanam Gandum
Indonesia mulai serius mengembangkan gandum sebagai komoditas pertanian dalam negeri. Di tengah ketergantungan terhadap pasokan gandum impor yang mencapai sekitar 12 juta ton per tahun, riset budidaya gandum tropis kini dilakukan di sejumlah daerah, salah satunya Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Harapan mengembangkan gandum di lahan pertanian tropis mulai terlihat di Desa Kasinoman, Kecamatan Kalibening. Tanaman gandum yang dibudidayakan di lahan percobaan seluas 100 meter persegi tersebut dijadwalkan memasuki masa panen pada pekan ini.
Uji coba ini menjadi bagian dari penelitian konsorsium enam perguruan tinggi yang berupaya menemukan wilayah potensial untuk pengembangan budidaya gandum di Indonesia. Hasil penelitian diharapkan menjadi dasar pengembangan produksi benih sekaligus memperluas lahan tanam gandum sebagai bahan pangan.
Guru Besar Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D., mengatakan, penelitian tersebut diarahkan untuk mengetahui kesesuaian kondisi lingkungan terhadap pertumbuhan gandum, terutama di wilayah beriklim tropis.
“Riset ini diarahkan untuk menemukan wilayah yang sesuai bagi produksi benih dan pengembangan gandum sebagai bahan pangan,” ujar Prof. Totok.
Menurutnya, gandum memiliki peluang dikembangkan di Indonesia karena siklus pertumbuhannya relatif singkat. Dalam kondisi lingkungan dan teknik budidaya yang sesuai, tanaman ini dapat dipanen sekitar tiga bulan setelah penanaman.
Penelitian dilakukan di empat lokasi dengan karakteristik ketinggian berbeda, yakni Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl); Desa Kasinoman, Banjarnegara, sekitar 1.200 mdpl; Cisarua, Bogor, sebagai dataran menengah; serta Dramaga, Bogor, sebagai wilayah dataran rendah.
Melalui pengujian tersebut, para peneliti ingin mengetahui wilayah yang paling cocok untuk pengembangan gandum, baik untuk produksi benih maupun bahan pangan.
“Melalui pemetaan tersebut, kami ingin mengetahui wilayah yang paling sesuai untuk produksi benih maupun produksi gandum sebagai bahan pangan. Dataran tinggi diarahkan untuk mendukung produksi benih, sedangkan dataran menengah dan rendah diteliti potensinya untuk pengembangan produksi gandum,” jelasnya.
Pemetaan dilakukan dengan mempertimbangkan suhu udara, curah hujan, kelembapan, intensitas penyinaran matahari, ketinggian tempat, hingga kondisi tanah.
Banjarnegara Punya Potensi Kembangkan Gandum
Banjarnegara bukan wilayah baru dalam pengembangan tanaman gandum. Pada 2011, pemerintah Provinsi Jawa Tengah pernah mengalokasikan program pengembangan gandum di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, dengan luas sekitar lima hektare.
Program tersebut berlanjut pada 2012 dan diperluas hingga sekitar 40 hektare di sejumlah desa di Kecamatan Batur, Pejawaran, dan Wanayasa.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk kembali mengembangkan gandum di wilayah pegunungan Banjarnegara. Melalui penelitian terbaru, pengembangan tidak hanya mengandalkan pengalaman budidaya, tetapi juga didukung pemetaan agroklimat dan pengujian varietas.
Saat ini, produktivitas gandum dalam negeri masih berkisar 2β3 ton per hektare. Sementara itu, penelitian gandum di Indonesia yang telah berlangsung sekitar dua dekade menghasilkan kurang lebih 12 varietas unggul.
Tantangan berikutnya adalah meningkatkan produktivitas, memperluas wilayah tanam, serta memastikan hasil panen dapat dimanfaatkan industri pangan.
Enam Kampus Garap Gandum dari Hulu hingga Hilir
Penelitian ini melibatkan enam perguruan tinggi, yakni Unsoed, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Andalas (Unand), Politeknik Negeri Lampung (Polinela), dan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.
Konsorsium yang mulai berjalan sejak 2025 tersebut mengembangkan penelitian dari hulu hingga hilir, mulai dari pengembangan varietas, teknik budidaya, pemetaan lahan, produksi benih, peningkatan produktivitas, hingga penanganan pascapanen.
Bahkan, Fakultas Pertanian Unsoed mulai menjajaki kerja sama dengan PT Sri Boga untuk menguji kesesuaian karakteristik gandum lokal sebagai bahan baku industri pangan.
Langkah ini penting agar hasil budidaya petani nantinya tidak hanya berhasil dipanen, tetapi juga memiliki peluang pasar dan dapat diserap industri pengolahan.
Dengan kebutuhan gandum nasional yang masih sangat bergantung pada impor, pengembangan gandum tropis menjadi salah satu peluang diversifikasi komoditas pertanian Indonesia.
Jika penelitian ini berhasil menemukan wilayah dan teknik budidaya yang tepat, bukan tidak mungkin gandum akan menjadi salah satu komoditas alternatif yang dapat dikembangkan di lahan pertanian dalam negeri.
