Rumah keluarga Jevon Joechelin Jotham di Griya Pesona Ngringo Indah, Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, mendadak dipenuhi tangis, Rabu (30/9/2026) pagi.
Bukan kepulangan yang selama ini dinantikan keluarga. Jevon, 19, akhirnya kembali ke rumah dalam sebuah peti jenazah setelah lebih dari dua pekan dinyatakan hilang dalam tragedi tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa.
Peti jenazah tiba setelah diterbangkan dari Banjarmasin menuju Semarang. Dari Semarang, jenazah kemudian dibawa menggunakan ambulans menuju rumah duka di Ngringo.
Ayah Jevon, Totok Haryono, tak mampu menyembunyikan kesedihan saat menyambut kedatangan putranya. Keluarga dan kerabat yang sejak pagi menunggu pun pecah dalam tangis ketika peti jenazah diturunkan dari ambulans.
Kepastian mengenai nasib Jevon baru diperoleh setelah proses identifikasi dilakukan. Jenazah nomor PM 064 dinyatakan identik dengan AM 067 JT atas nama Jevon Joechelin Jotham. Identifikasi dilakukan menggunakan data primer berupa pemeriksaan gigi serta data sekunder berupa ciri medis dan properti. Keluarga juga mengenali ciri khusus pada jenazah, yakni kalung dan tanda lahir di bagian siku.
“Kalung sama tanda lahir di siku berupa toh dan itu masih terlihat,” kata Totok.
Jevon merupakan salah satu korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8 pada Minggu (13/9/2026) sekitar pukul 02.00 WITA.
Saat itu, Jevon bersama dua sahabatnya, Aldo Nurahmansyah, 19, dan Ahda Dhiyaurohman, 18, berangkat dari Surabaya menuju Banjarmasin. Mereka berencana mencari pekerjaan di perkebunan kelapa sawit.
Namun, perjalanan tersebut berakhir tragis. Jevon dan Aldo ditemukan sebagai korban, sedangkan keluarga harus menunggu proses identifikasi untuk memastikan kepulangan Jevon.Aldo telah lebih dahulu dimakamkan di Astanalaya Purwoloyo, Pucangsawit, Jebres, Solo, Rabu (23/9/2026).
Kini Jevon menyusul pulang. Namun, kepulangannya meninggalkan duka yang jauh lebih dalam bagi keluarga.
Terlebih, Totok masih mengingat jelas percakapan terakhir bersama Jevon dan kedua sahabatnya melalui panggilan video sebelum mereka berangkat ke Kalimantan. Ketiganya sempat mengucapkan sebuah kalimat yang kala itu terdengar seperti janji persahabatan.
“Mangkat bareng, mati bareng, sukses bareng.”
Tak ada yang menyangka kalimat tersebut menjadi pesan yang begitu membekas bagi keluarga.
Jevon merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ibunya meninggal dunia sekitar setahun lalu karena sakit. Sejak itu, Jevon lebih banyak menemani sang ayah, sementara kakaknya bekerja di Bali.
Kepergian Jevon ke Kalimantan sebenarnya membawa harapan baru. Ia ingin bekerja di perkebunan kelapa sawit dan membantu perekonomian keluarga.
Kini harapan itu telah berakhir. Setelah perjalanan panjang dari Kalimantan, Jevon akhirnya kembali ke rumah yang ditinggalkannya. Bukan untuk berkumpul bersama keluarga, melainkan untuk beristirahat untuk selamanya.











