Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyumas yang mencapai 6,03 persen pada triwulan II 2026 menjadi modal penting bagi penguatan ekonomi kawasan Banyumas Raya. Namun, di tengah ketidakpastian ekonomi, tantangan menjaga stabilitas harga pangan, daya beli masyarakat, serta keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi pekerjaan besar.
Tantangan tersebut menjadi salah satu perhatian utama setelah Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Solikin M. Juhro, secara resmi mengukuhkan Aswin Gantina sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Jumat (6/11/2026).
Aswin menggantikan Christoveny yang sebelumnya berkontribusi dalam pengendalian inflasi, pengembangan UMKM dan ekonomi syariah, digitalisasi sistem pembayaran, serta pengelolaan Rupiah di wilayah Banyumas Raya.
Dalam arahannya, Solikin M. Juhro menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan bukan sekadar regenerasi organisasi, melainkan momentum untuk memperkuat peran Bank Indonesia dalam menghadapi dinamika perekonomian daerah.
Menurutnya, BI Purwokerto memiliki tiga agenda strategis, yakni menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan, mendorong transformasi ekonomi melalui penguatan UMKM dan sektor unggulan daerah, serta mempercepat digitalisasi sistem pembayaran.
“Bank Indonesia harus memperkuat peran sebagai strategic advisor pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan. Selain itu, mendorong transformasi ekonomi melalui keterkaitan antarsektor dan antarwilayah, serta mempercepat digitalisasi sistem pembayaran yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal,” ujar Solikin.
Tantangan tersebut cukup relevan dengan kondisi perekonomian Banyumas. Berdasarkan data BI, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyumas pada triwulan II 2026 mencapai 6,03 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sebesar 5,71 persen dan nasional 5,29 persen.
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi perlu diikuti dengan penguatan daya beli masyarakat. Terlebih, inflasi Kota Purwokerto pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,00 persen secara tahunan.
Stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi juga dirasakan masyarakat melalui terjaganya kemampuan konsumsi rumah tangga.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan, Bank Indonesia merupakan mitra strategis pemerintah daerah, terutama dalam pengendalian inflasi dan pengembangan potensi ekonomi lokal.
“Kami berharap komunikasi dan kerja sama yang telah berjalan selama ini dapat terus diperkuat, sehingga berbagai program yang dilaksanakan semakin sesuai dengan kebutuhan daerah,” kata Sadewo.
Sejumlah kolaborasi telah dilakukan, di antaranya melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), Pasar Murah SARAHSIMAS, peningkatan kapasitas petani, TAKARA MERDAYA, serta penguatan klaster komoditas pangan.
Di sisi lain, digitalisasi ekonomi juga mulai menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga September 2026, transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah Banyumas Raya mencapai sekitar 196 juta transaksi dengan nominal kumulatif Rp14,75 triliun. Jumlah merchant yang telah menggunakan QRIS mencapai 707.126.
Pencapaian tersebut menunjukkan semakin luasnya penerimaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap sistem pembayaran digital. Namun, perluasan digitalisasi juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi transaksi dan memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM.
Kolaborasi BI dan Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam digitalisasi diwujudkan melalui Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD), termasuk pembayaran parkir berbasis QRIS di kawasan wisata Menara Teratai Purwokerto serta penerapan E-Retribusi di 14 pasar tradisional.
Ke depan, kepemimpinan Aswin Gantina diharapkan mampu menjaga kesinambungan berbagai program tersebut sekaligus menghadirkan inovasi baru yang menjawab tantangan ekonomi masyarakat.
Aswin berkomitmen memperkuat pengendalian inflasi dan ketahanan pangan, meningkatkan daya saing UMKM serta sektor riil, memperluas digitalisasi sistem pembayaran, dan memastikan layanan Rupiah serta edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah menjangkau masyarakat secara luas.
BI Purwokerto juga akan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah di Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat, tantangan berikutnya adalah memastikan manfaatnya semakin merata. Stabilitas harga pangan, peningkatan produktivitas UMKM, dan perluasan kesempatan ekonomi menjadi kunci agar pertumbuhan Banyumas Raya tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
