Dolar Menguat, Harga Kedelai Impor Naik
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak nyata pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah di tanah air. Di jalur Pantura Subang, Jawa Barat, lonjakan harga kedelai impor membuat para pengrajin tahu dan tempe kian menjerit, bahkan sebagian di antaranya terancam gulung tikar.
Kenaikan harga bahan baku utama ini salah satunya dikeluhkan oleh para pengrajin tahu di kawasan Pantura, tepatnya di Desa Cilamaya Hilir, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang.
Dalam sepekan terakhir, harga kedelai impor terus merangkak naik secara bertahap. Dari harga awal sebelas ribu delapan ratus rupiah, naik ke sebelas ribu sembilan ratus rupiah, hingga kini menembus angka dua belas ribu rupiah per kilogram.
Kondisi ini dinilai sangat memberatkan karena kedelai merupakan komponen biaya produksi terbesar bagi usaha rumahan mereka.Rabu (04/11)26)
Demi menyiasati kerugian yang lebih besar dan agar produksi tetap berjalan, para pengrajin terpaksa mengambil langkah pahit dengan memperkecil ukuran tahu yang dijual ke pasar. Akibat strategi ini, omzet pendapatan mereka merosot tajam hingga dua puluh persen.
Hasanudin (49 tahun), pengrajin Tahu Desa Cilamaya Hilir, mengaku sangat terbebani dengan situasi ini. Fluktuasi harga kedelai yang terjadi dalam waktu singkat dinilai sangat memberatkan para pelaku usaha rumahan.
βDampak kenaikan dolar terhadap rupiah di kisaran 18 ribu berdampak pada harga kedelai naik. Imbasnya pengrajin tahu turun omzet sekitar 20 persen, dan untuk bertahan produksi terpaksa mengecilkan ukuran tahu.βujarnya
Usaha pembuatan tahu dan tempe ini umumnya merupakan bisnis rumahan yang sudah dijalani secara turun-temurun. Menghadapi situasi sulit yang kian tidak menentu, para pengrajin sangat berharap pemerintah segera turun tangan mengambil kebijakan konkret untuk menstabilkan harga kedelai di pasaran agar mata pencaharian mereka bisa terselamatkan.
